Legenda Tomanurung

Legenda Tomanurung - Beberapa legenda menyebar tentang kehadiran sosok-sosok agung yang digambarkan sebagai Ratu adil pembawa bahtera kedamaian bagi suatu kaum, memilki beragam kisah.Bukan hanya itu, setiap  kisah senantiasa meninggalkan tafsiran dari bermacam versi. Tak ayal banyak tokoh budaya berpendapat, sejarah bangsa ini dibangun dari serpihan-serpihan legenda serta mitos yang melekat kuat dalam budaya dan tradisi masyarakat Indonesia.

Salah satunya Legenda Ratu Adil, hingga saat ini masih menyelimuti  keyakinan budaya Jawa yang kental dengan kisah pewayangan. Tidak jarang dibayangkan Ratu Adil muncul sebagai seorang pangeran dari kerajaan antah berantah atau seorang kesatria yang akan turun gunung dari pertapaan seorang begawan yang sakti. Pangeran atau kesatria inilah yang seharusnya menjadi pemimpin bangsa Indonesia. Kisah ratu adil atau pangeran ditanah Jawa memilki kesamaan misi sebagai pembawa kedamaian. Kisah ini nampaknya memiliki persamaan dengan mitos Tomanurung yang melegenda di beberapa wilayah di Sulawasi Selatan hanya saja, jika ratu adil diisyaratkan muncul pada saat akhir zaman, maka tomanurung di Sulsel ( Gowa, Bone, Soppeng, Wajo, Bantaeng, Luwu dan Toraja. ) justru hadir sekitar tahun 1300-an yang sampai saat ini masih menyimpan sejuta misteri.

Untuk itu, saya mencoba mengumpulkan sisa-sisa jejak tomanurung yang barang kali masih bisa ditelusuri. Hari pertama, saya awali dengan mengeledah isi Perpustakan Daerah, yang bertempat di Jalan Sultan Alauddin, Makassar, berharap menemukan kisah Tomanurung bersembunyi dibalik lipatan-lipatan naskah kuno. Isi lemari bagian belakang, dipenuhi dengan koleksi naskah lampau jadi sasaran saya. Satu persatu  buku buku itu saya periksa, berharap ada kisah kehadiran sang “juru selamat” itu. Beruntunglah sebuah buku karangan Pananrangi Hamid, seorang pengiat sejarah Sulsel bertajuk Sejarah Dearah Gowa menjadi rujukan utama. Alasanya dalam buku cetakan 1996 itu menyimpan beberapa catatan lontara' yang disadur dari naskah Purrilolowi.

Buku Pananrangi yang sudah rapuh itu mengurai beberapa kisah terkait tentang legendaTomanurung. Misalnya, dalam tinjauan etimologi, kata tomanurung merupakan satu istilah yang berasal dari gabungan dua sukukata bahasa Makassar, yaitu To, dan Manurung. Kata To diambil dari kata dasar Tau yang berarti orang, sedangkan Manurung diambil dari Ma dan Turung yang berarti turun (dari atas). Dengan demikian sejumlah pakar beranggapan istilah to manurung bermakna orang yang turun dari kayangan. Seperti dilansir oleh Pananrangi dalam bukunya yang kini tersimpan dilemari kaca perpustakaan daerah .

Pemaknaan sempit ini lalu berkembang, seiring dengan daya jelajah spiritual masyarakat Makassar dan akhirnya berbuah menjadi mitos yang dipercayai secara turun temurun hingga mempengaruhi tradisi di dearah ini. Namun perlu ditegaskan. Mitos merupakan salah satu pengetahuan manusia tradisional yang dipakai untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan manusia tentang alam semesta. Dahulu, mitos berdetak di setiap jantung peradaban,mitos adalah sebuah potongan jawaban penting bagi semua insan, dan mitos bukanlah sekedar sebuah dongeng. Dahulu mitos merupakan rumah pengetahuan. Kini, peradaban telah bergeser dan nalar sebuah mitos pun mulai dikesampingkan. Begitu juga dengan Unsur mitos yang dilekatkan pada skaraliasasi sosok tumanurung, sudah barang tentu ditafsirkan berdsasrkan kondisi situasional masyarakat yang menganutnya.

Konsepsi masyarakat Gowa Makassar terhadap Tomanurung

Untuk mengetahui bagaimana persisnya masyarakat Gowa memandang Tomurung, saya mengacu informasi itu dalam naskah yang disadur ulang oleh B.F Mahtess, yaitu, lontara' Patturiyolowanga. Berdasarkan kumpulan naskah lontara' tersebut, ahli bahasa berkebangasaan Belanda itu menerbitkan sebuah buku Makassar Chritomate, sebuah ulasan historis tentang aspek sosial yang terjadi di Makassar, salah satunya juga memuat tentang konsepsi masyarakat terhadap Tomanurung khusunya di Makassar . Berikut nukilan dalam lontara' Patturiyolowanga:
“tumanurunga sikalabini karaeng Bayo….iya na nikana ri turiyolowa tumanurung ka-taniassengai kabattuawanna siyangang kamatoyanna..nikanaja mallayangi. Iyami nabaineyang karaeng bayo…4)

Artinya: Tomanurung itu bersuami istri  dengan karaeng Bayo, beliaulah yang dikenal orang orang dahulu sebagai tumanurung,karena tidak diketahui tentang akhir hayatnya hanya dikatakan gaib . Beliaulah yang diperistrikan oleh kareang Bayo.

Hasil transkipsi Matthes dalam Makassar Christomatie (hal 137) tidak lain adalah saduran lontara' patturiyolowanga, mencoba memberi arti khusus pada sosok wanita gaib yang dari awal tidak diketahui asal usulnya. Namun nampaknya arti penting bagi Mathess tetap mengagap Tomanurung adalah manusia keturununan dewa-dewa yang selanjutnya dipercayakan sebagai raja pertama kerajaan Gowa. Cukup sulit diterima, bagi sosok intelek dan rohaniawan se tingkat Matthes masih terselubung awan mistis yang di negeri asalnya telah lama redup. Muncul dugaan, apakah benar figur ini terlibat dalam pola demitologi sejarah?

Cukup banyak data yang menyebutkan adanya upaya rekayasa sejarah yang diseting oleh mathes, salah satunya dalam proyek transkipsi sinlrik kalatuarilaow.

Tidak puas dengan informasi tersebut, saya mencoba mendalami data Dalam ensiklopedia sejarah sulawesi selatan dalam kurun waktu 1905. Dalam riwayatnya, pengakatan dan penobatan Tomanurung menjadi raja bukan didasari pada kesaktian, tapi lebih karena ada karismatik yang melekat pada sosok Tomanurung sehingga mampu meredam konflik di wilayah Gowa. Namun perlu dikemukan, sebelum kedatangan Tomanurung, keadaan Gowa purba kala itu belum terlalu banyak diketahui. Berbagai bukti peninggalan masa silam buah dari hasil temuan purbakala, belum memadai mengungkap tabir sejarah Gowa kuno, kecuali satu yang berhasil ditemukan adalah, sejak zaman paleolithikum (batu tua) sudah banyak ditemukan flakes, yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon, yang dapat digunakan untuk mengupas makanan saat itu. Itu artinya, telah ada tanda-tanda kehidupan masyarakat disekitar kawasan Gowa. Dalam beberapa naskah lontara' maupun cerita-cerita rakyat, tidak menujukan keterangan yang detail, namun ada beberapa hal bisa dijadikan kajian dalam membantu mengurai siapa sosok Tomanurung yang diyakini sebgaian masyarakat Gowa sebagai titisan dewa. Kali ini Mathees tetap saya posisikan sebagai bagian dalam memecah sosok gaib ini. Seperti tercantum dalam Makassar Christomatis menyebutkan : A kana-kanai uru’mangelena karaeng kasiwiyang salapanga. Makasampulona pa’callaya. Kammami ann kanaya. (lihat hal 55)

Artinya :
“memperbincangkan perihal pengakatan kareang yang dipertuan oleh kasiwiyang salapang beserta pa’callaya. Beginilah riwayat perihal dinobatkanya raja yang dipertuan di Gowa, berucap kasiwiyang salampanga, kasiwiyang di Tombolo, kasiwiyang di Lakiyung, Kasiwiyang Salapanga, Kasiwiyang di Samata, Kasiwiyang Pasampareng, Kasiwiyang di data’, kasiwuyang di Yagang je’ne, kasiwiyang di besei, kasiwiyang di sero, kasiwiyang di kalling, yang terletak disebelah utara besei dan kesepeuluhnya pa’callaya.”

Berdasasrakan informasi tersebut, daerah Gowa pada masa sebelum kedatangan Tomanurung telah terbagi dalam sembilan wilayah (kerajaan kecil) yang masing-masing wilayah itu berada dalam kendali seorang pemimpin yang disebut Kasuwiyang. kasuwiyang ini tak lain adalah abdi masyrakat. Ke-sembilan kerajaan kecil ini dipersatukan oleh tokoh yang bergelar Pacallaya seorang ahli hukum.

Keadaan daerah Gowa sebelum datangnya Tomanurung merupakan daerah gabungan dari sembilan negeri kecil yang berada dalam wilayah : Tombolo, Lakiyung, Samata, Patamparang, Data, Agang je’ne bisei sero dan Kalling

Selain negeri- negeri bersangkutan, seperti dikemukakan oleh Mathess, ternyata kala itu disekitar Gowa telah ada beberapa negeri lainnya. Gowa masih belum memeliki daerah kekuasaan yang luas seperti masa kejayaan Sultan Hasanuddin. Jika demikian, seperti apa hubungan antara Gowa dengan negeri-negeri disekitarnya. Menurut catatan lontara', negeri negeri tersebut kurang membina hubungan baik dengan pihak Gowa. Kerap kali terjadi pertikaian yang akan berakhir saling perang. Seperti pada kutipan berikut ini:

….Na-nitalluimo bedeng nibundu’ Gowa ri tugabbssika ri tu untiya ri tu Lambengi

Artinya: ..konon diperangilah Gowa oleh orang-orang dari tiga negeri, yaitu: orang-orang garassi, orang-orang negeri Unti, dan orang-orang dari negeri Lambengi

Sejauh ini belum ada kepastian lebih lanjut terkait tiga kerajaan kecil, yang terlibat konflik dengan wilayah kasuwiyang di Gowa. Dengan demikian, disimpulkan konflik di Gowa sejatinya datang dari dua penjuru. Yaitu, konflik internal, melibatkan sembilan Kasuwiyang, juga konflik eksternal, melibatkan tiga kerajaan sekitar Gowa. Dari titik inilah Gowa menjadi hiruk pikuk politik sehingga menjadi sasaran empuk serangan kaum Garassi, Untia, dan Lambengi. Tidak ada catatan khusus tentang tiga kaum yang pernah menabuh genderang perang dengan Kerajaan Gowa ini. Bahkan, dikisahkan setelah perang berakhir, konon terdengar kabar di sebuah tempat bernama Takak Bassia seorang wanita anggun turun dari Kayangan. bersama dokohnya, piring jawa, beserta istananya yang sebesar lima petak di dekat sebatang pohon mangga jombe-jombea.

Paccallayya dan raja-raja pun pergi mendatangi tempat tersebut. Saat itu mereka mendapati seorang gadis cantik mengenakan sebuah doko. Rombongan Patesapang dan Pacalaya tidak mengenal nama asli perempuan tersebut. Dialah wanita yang turun dari kayangan Lalu berkatalah Paccallayya dan raja-raja kecil kepada perempuan Tomanurung (turun dari langit) itu dengan maksud dipertuan. Kisah tentang percakapan antara betesalapanmg kauwing dan tomurung ini oleh sebagain kalangan akademik dinilain sebagai bentuk iktan kotrak poltik legitimasi kekuasaaan.

Namun perlu diketahui, sebelum kedatangan Tomanurung proses interaksi sosial kala itu sudah mengenal sistem musyawarah mufakat. Cara ini bukan hanya dilakukan antara pimpinan dengan anggota masyarakat yang berada dalam sebuah komunitas , tetapi diberlakukan seluruh masyarakat terutama membagun komunikasi denagn para Kasiwiyang yang di mediasi oleh Pacallaya. Seperti terulis dalam lontara' berikut ini:

“anjo nikana pa’callaya. Iya bedeng a’tanga raki kanana kasiwiyang salapnag. Iyaminjo nikana bate salapangan ri gowa…….(lihat hal 58)

Artinya:

“yang digelar pacalaya, ialah yang membimbing baik buruknya pembicaraaan kasuwiyang salapanga. Mereka yang diberi gelar bete salapanga di gowa. Bete salapanga itulah sebelum adanya karang. Apabila muncul masalah bermufakatlah mereka (kesembilan)dan disertai kesepuluh (pacalaya)untuk merumus kata mufakat. Kesembilan kaiwiyang dan pacalaya mengambil kata sepakat dam menyimpulkan pemikiran karena belum adanya kareng. Mereka tidak saling bersitegang urat leher tidak saling mengambil hak masing-masing….sesudah itu, bete salapang beserta Pacalaya mengadakan majelis sehingga diambil kesepekatan untuk memilih dan mengangkat seorang karaeng.

Kutipan dalam lontara' tersebut dalam tafsirannya menjelaskan masyarakat didearah Gowa, sebelum kedatangan tomanurung telah dibimbing oleh pemimpin masing masing secara otonom, mereka telah menjalin sebuah tatanan pemerintahan domokratis. Meski sifatnya masih dalam kendali kuasa pemimipin yang disebut kasuwiyang. Dalam prosesnya manakala terjadi suatu masalah dalam kehidupan sosial mereka, maka sang pemimpin akan menggelar majelis musyawarah, melibatkan langsung pacallaya sebagai mediator. Majelis ini nantinya akan merumuskan seluruh usulan ataupun pendapat warga.

Seiring waktu, gejolak dalam lingkar kasuwiyang kian alot. Masing—masing mengklaim sebagai pemimpin yang mampu membawa perubahan bagi masyarakat. Berhubung kondisi saat itu sedang kacau. Seperti digambarkan pada lontara' ……bahwa tidak ada sistem atau aturan hukum yang mengatur tentang penyimpangan. Maka disaat itulah masyarkat membutuhkan sosok yang mampu mendamaikan hiruk-pikuk politik yang berefek pada kekacauan massal. Dengan demikian, melihat situasi kian tak terkendali, tokoh masyrakat Gowa yang tergabung dalam bete salapang dan pacalaya akhirnya kewalahan mengahadapi situasi poltik yang kian meruncing. Dari titik inilah bete salapang bermufakat mencari dan mengakat seorang penguasa yang dinilai cakap meredam gejolak ini.

Di antara raja-raja kecil pun merasa enggan untuk mengangkat salah satu dari mereka untuk dijadikan raja. Hal itu ternyata membuat banyak terjadi perselisihan di antara raja, namun peran seorang paclaya cukup stetegis memmediasi kemamuaan sembilan kasuwiyang ini. Hingga akhirnya konon meyakini dan menyerahkan “kekuasan “ kepada sang gaib yaitu Tomanurng. Yang terikat dalam beberapa perjanjian yang selanjutnya oleh beberapa pakar disebut sebagai kontarak sosial

Mengenal lebih dekat sosok tomanurung

Sejarah terbentuknya beberapa kerajaan besar di Sulsel selalu diawali dengan kehadiran seorang (Tomanurung).Baik di Gowa, Bone, Bantaeng Soppeng, Wajo, Toraja dan Luwu', sebelum kehadiran sosok gaib itu, selalu diawali dengan fenomena alam yang luar biasa. Muncul sejumlah anggapan, fenomena alam itu sebagai isyarat menumpas tabiat buruk yang melanda dearah itu. Jika benar demikian, lantas, siapa sebenarnya sosok gaib ini? Sebegitu gaib kah ia, hingga masyarakat hanya mengenalnya sebagai bidadari turun dari kayangan? Benarkah ia keturanan dewa? Padahal sejarah sejumlah bangsa pada tahun 1300 sudah mengubur kenangan paham dinamisme.Terlampau jauh untuk menjadikan nusantara, terlebih zaman Gowa purba jika diseterakan dengan perkemabangan pesat kawasan Eropa. Paling tidak bukti ini sedikit memperjelas bahwa sebenarnya zaman mitologi telah bergeser ke arah peradaban yang lebih maju. Jika benar adanya, ada kemungkinan sosok Tomanurung jusrtu hanya dijadikan sebagai rekaan atas gejolak kepentingan kekausaan sembilan bate? Untuk memecah kebekuan atas pertanyaan itu, saya bangun komunikasi dengan beberapa orang yang yang memiliki informasi sejarah lisan. Diataranya Iwan Gunawan Bangsawan dalam komentar pada sebuah situs jejaring sosial, ia sedikit memberikan berbagai prespektif, baginya berdasarkan sejarah lisan, konsep Tomanurung bukanlah berarti orang yang turun atau berasal dari langit. Namun orang yang memang dipersiapkan secara khusus untuk menjadi Somba di Gowa. Karena itu ia diajari dan dibekali dengan keahlian dan kemampuan yang diperlukan agar dapat menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai Somba. Salah satunya (selain ilmu ketatanegaraan, dll) disebut dengan "tari" Bunga Tonjong na Gowa. Konon, Danau Mawang menjadi tempat untuk belajar dan melatih "tarian" ini. Logikanya, bila seseorang mampu "menari" di atas daun teratai (bunga tonjong), tentu tidak terlalu sulit baginya untuk "kelihatan" melayang di udara (seakan-akan turun dari langit). Konon, keahlian ini yang diperagakan oleh Tomanurung Bainea (Somba pertama Gowa) ketika pertama kali "muncul" dihadapan "rakyat" Gowa. Keahlian ini pula yang sering diperagakan oleh Somba sesudahnya yang mampu berburu rusa sambil berdiri di atas pelana kudanya.
Demikian versi lisan yang pernah ia dengar.

Selain itu seorang seniman Gowa. Dang Tutu, justru melontarkan kritikan terhadap bangunan keyakinan masyarakat yang selama ini masih mengendap. Dirinya menduga ada konspirasi politik yang terjadi dalam kisah Tomanurung, baginya Tomanurung tak ubahnya sebagai mitos. Bagi seorang muslim tentu Ia tidak pecaya kisah Tomanurung, namun sebagai warga Gowa yang dilekatkan pada tardisi leluhur ia mangaku menghormati kepercayaan itu.
Terkait konspirasi politik masa lalu, saya berusaha menanyai pada lelaki berusia 55 tahun ini. Mulanya ia enggan berkomentar, raut mukanya soalah berdamai dengan keteguhannya, sesekali anggukan kening tebalnya mengerut lalu mamalingkan kepala, menuduk dan akhirnya ia pun berbaik hati sedikit menceritakan apa sebenarnya yang terjadi dalam sknario kedatangan Tomanurung.
“ Berdsarkan cerita-cerita lelehur sebenarnya ada rekayasa sestemik antara dua kasuwiyang besar yang berpengaruh dengan melipatkan pacalaya demi meredam konfilik tujuh kasuwiyang. Nah dua kasuyang ini adalah Tombolo dan Mangassa. Mereka dinilai cakap dan rasional. Kemungkinan, dari dua kasuwiyang inilah sejarah itu ditutupi dengan menghadirkan cerita tentang sosok spritualis yang dikenal dengan tomanurung yang sesungguhnya tidak ada.” Ujarnya santun.

Bukan tanpa alasan kedua kasuwiyang ini cukup dikaumi masyrakat kala itu, kewibawanya menurut seniman sinlrik ini Daeng Tutu mampu menebus tembok kekeuasaan kerajaan. Hingga kini dua kasuwiyang ini mendapat tempat terhormat dalam lingkup tradisi adat Gowa. Kewibawaan dua kasuwiyang menurut lelaki berpeci hitam ini nampak ketika sembilan gallarang bertemu raja, meski penguasa tersebut lagi dalam pembaringan (tidur) tidak ada alasan bagi raja tidak menemui mereka, tapi sebaliknya, jika raja bertemu salah satu dari meraka yang kebetulan lagi tidur, maka raja harus kembali atau menunggu sampai kasuwiyang ini bangun.

Untuk saat ini Salah satu tokoh nasional yang dilahirkan dari gallarang tombola yaitu prof Rias Rasid.

Tidak hanya Dang Tutu, saya lalu mengkomfirmasi cerita Tomanurung kepada magau Tallo ke 19 I Paricu Dang Manaba di sekretariat Lemabaga Adat Kesultanan Tallo di kompleks benteng Roterdam. Raja muda ini mengaku sebagai seorang muslim taat, meyakini tidak ada lagi manusia dimuka bumi ini yang turun dari langit setelah nabi Adam dan Hawa. Lelaki berkamis coklat ini hanhya memberikan penjelasan tanpa mengurainya lebih detail. Saya harus berlapang dada, menghormati sikap beliau tentang rahasia tomnurung di kalangan Makasssar dan Tallo.

Pendapat bebrapa pakar

Untuk menelusuri jejek Tomanurung, saya tetap bersandar pada beberapa pustaka yang relevan dalam penulisan ini, namun tidak juga hanya mengndalkan satu keyakinan objketif untuk meperkaya khazanah mitos tomanurung, sehingga saya dituntut melipatkan beberapa keterangan pakar yang dinilai mampuni melihat mitos ini dari perspektif keilmuan mereka. diantaranya adalah Mattulada. Seorang guru besar antropologi Universitas Hasanuddin, katerangan darinya saya peroleh dalam tulisan yang dipaparkan oleh Anwar Ibrahim yang saya kutip dari catatan blogspot DR. Alwi Rahman, seorang akademisi sekaligus penggiat kajian budaya dan politik di Makassar. Dalam catatan itu Matulada memberikan pengertian tentang alur kekuassan Makassar ataupun bugis dalam tinjaun lakon politik Tomanurung. Salah satunya tertulis sebagai berikut: Mitos Tomanurung sebenarnya merupakan salah satu strategi memperoleh legitimasi kekuasaan. Mattulada menilai kedatangan tomanurung amat dihajatkan untuk mengakhiri keadaaan kacau balau yang cukup lama terajadi di daerah Gowa. Untuk meredam situasi tersebut kedatangan tomanurung diperlukan guna menuntun bagaimana kebebasan dan kemerdekaan pribadi dan kelompok yang bertikai dapat berguna bagi kesejahteraan bersama.
Dengan demikian , mitos Tomanurung memberikan legitimasi, bukan hanya pada kekuasaan melainkan memberi legitimasi pada sistem stratifikasi sosial masyarakatnya.

Sementara bagi Abu hamid, juga guru besar antropologi Unhas yang giat meneliti kebudayaan Islam di Sulsel memandang, ide atas kedatangan Tomanurung dipahami oleh warga sebagai pembawa pembaharuan serta melindungi rakyat dari musuh. Perjanjian antara gallarang, pacallaya dan Tomanurung dipandangnya sebagai kontrak sosial. Jika dilihat dari ukuran zaman, menurut Abu Hamid sudah mengandung ciri ciri modernitas. Lebih lanjut legitimasi dan ketaatan tomanurung beserta raja-raja berdasar pada isi dan ide yang terkandung dalam perjanjian teresbeut. Sehinnga mitos tomanurung dan kontrak sosial yang menyertainya merupakan setrategi menyatukan kaum-kaum yang selalu bertikai.

Sama halnya penjelasan yang disampaikan oleh ahli hukum Andi Zainal Abidin memandang mitos Tomanurung sebagai mitos politik, yang memberikan legitimasi kekuasaan bagi anak cucu pewarisnya untuk memegang kelanjutan kekuasaan. Menurut Zainal unsur mitos politik terdapat pula pada pendahuluan lontarak Bugis dan Makassar yang mengisahkan tentang tumanaurung, dengan adanya kabar orang yang turun dari langit tidak diketahui pula siapa ayah dan ibunya serta tidak diketahui asal usulnya (Zainal Abidin, 1999)

Sementara Hedy Ahimsa yang menekankan penelitiannya pada hubungan patron client di Sulsel menyebutkan mitos kedatangan Tomanurung merupakan salah satu bentuk legitimasi yang menyebabakan raja-raja kecil tunduk pada Tomanurung dan turunan-turunannya secara sukarela, setelah melalui proses perjanjian yang mengikat mereka. Dengan demikian menurut Hedy sangat jelas ideologi patron client tampak ditanamkan cerita-cerita mitos asal usul kerajaan dan hubungan poltik antar bagiannya yang diutarakan dalam istilah minawang. Atau dalam hal ini adalah kasuwiyang.

Perjanjian bete salapang dengan tomanurung: suatu ikatan kontrak sosial

Konon di sebuah tempat bernama Takak Bassia seorang wanita anngun turun dari Kayangan, sembilan kasuwiyang bersama satu pacalaya menghadap wanita tersebut. mereka lalu berikrar dalam satu keputusan politis, seperti berikut ini:

“kami semua datang untuk mengambil engkau menjadi raja kami”
Sang Tumanunrunga menjawab, “Engkau pertuan kami, masih menumbuk, masih mengambil air”.

Berkata lagi Paccallayya dan sembilan raja, “sedangkan istri kami tidak menumbuk, tidak mengambil air, apalagi Engkau yang kami pertuan”.
Lalu Tumanurung bangkit, dan rela diangkat menjadi raja. Sejak saat itu Gowa memiliki seorang pemimpin baru, seorang raja yang turun dari langit.
Paccallayya dan Kasuwiang Salapanga (sembilan pengabdi, raja-raja kecil yang berubah jabatannya sejak naiknya Tumanurunga menjadi raja Gowa. Kadang juga disebut Bate Salapang atau Sembilan Pemegang Bendera) membangun sebuah istana yang besarnya sampai sembilan petak di Takak Basia untuk Tumanurunga, kemudian istana itu di beri nama Tamalate, yang artinya Tidak Layu. Dinamai demikian karena daun-daun darikayu yang dijadikan istana itu belum layu sewaktu istana selesai dibangun.

Tumanurung begitu termasyhur akan kecantikan dan kebijaksanaannya. Kabar mengenainya terus tersebar ke luar wilayah Gowa. Maka datanglah raja-raja dari negeri lain untuk tunduk kepadanya.

Namun lama setelah Tumanurung menjadi raja, Kasuwiang Salapanga menjadi khawatir karena sang Raja Wanita belum juga memiliki pendamping. Kelak jika raja mangkat, dan belum juga mempunyai keturunan maka Gowa akan kembali menjadi kacau balau.

Pada saat itu datanglah dua pemuda masuk ke Gowa dari arah selatan. Dua pemuda bersaudara dan tidak jelas asal usulnya, namun konon berasal dari Tana Toraja. Yang satu bernama Karaeng Bayo, dan saudaranya bernama Lakipadada. Karaeng Bayo memiliki sebuah kelewang (badik) yang bernama Tanruballanga, dan Lakipadada memiliki sebuah kelewang yang dinamai Sudanga. (konon kedatangan Lakipadada ke Gowa dengan bergantungan di cakar seekor burung garuda).
Paccallayya dan Kasuwiang Salapanga yang mengetahui kedatangan dua pemuda tadi bergegas menemui keduanya dengan maksud mempersuami-isterikan Karaeng Bayo dengan Tumanurunga.

Berkatalah Paccallayya dan Kasuwiang Salapanga, “kami datang mengambil Engkau untuk mempersuami-isterikan Engkau dengan raja kami”.

Karaeng Bayo menjawab, “sedangkan Engkau si empunya negeri sudah menurunkan kami ke dalam lubang tanah kami berdiam diri, apalagi Engkau naikkan kami ke puncak pohon kelapa. Sudah tentu hal itu sangat menggembirakan hati kami”.
Maka bertempat di Tammalate, dilaksanakanlah pernikahan antara Karaeng Bayo dan Karaeng Tumanurunga dengan upacara kebesaran menurut adat istiadat kerajaan Gowa. Seluruh rakyat riuh dalam suka cita, bersyukur kepada Dewata atas berlangsungnya perkawinan itu.

Beberapa waktu setelah itu, antara Karaeng Bayo dan Karaeng Tumanurung, serta Paccallayya dan Kasuwiang Salapanga diucapkan ikrar yang akan selalu diingat oleh rakyat Gowa. Ikrar tersebut berbunyi
Karaeng Bayo Berkata kepada Paccallayya dan Kasuwiang Salapanga :

Bahwasanya Engkau angkat kami menjadi rajamu. Kami bersabda dan Engkau tunduk patu. Kami adalah angin, Engkau adalah daun kayu.
Paccallayya dan Kasuwiang Salapanga menjawab :

Bahwasanya kami telah mengangkat engkau menjadi raja kami, Engkau adalah raja dan kami adalah hamba rakyat tuanku.

Engkau adalah sangkutan tempat bergantung, kami adalah lau (tempat air tuak, terbuat dari kulit labu). Kalau sangkutan tempat bergantung patah dan lau tidak pecah, kami mati.
Kami tidak akan tertikam oleh senjatamu, engkaupun tidak tertikam oleh senjata kami.
Hanya Dewata yang membunuh kami, engkaupun hanya Dewata yang membunuhmu.
Bertitahlah Engkau dan kami tunduk patuh. Kalau kami menjunjung, maka kami tidak memikul, kalau kami memikul maka kami tidak menjunjung.
Engkau adalah angin, kami adalah daun kayu. Akan tetapi hanya daun kayu yang telah menguning sajalah Engkau luluhkan.

Engkau adalah air dan kami adalah batang hanyut. Akan tetapi hanya air pasang yang besar saja yang dapat menghanyutkan.
Walaupun anak kami, walaupun isteri kami, jika kerajaan tidak menyukainya, maka kami pun tidak menyukainya.

Bahwasanya kami mempertuan Engkau, bukan harta benda kami.
Engkau tidak akan mengambil ayam dari kandang ayam kami, engkau tidak akan mengambil telur ayam dari pekarangan kami, tidak mengambil kelapa kami sebutirpun dan tidak mengambil pinang setandanpun dari kami.

Jika Engkau mengingini barang kepunyaan kami, Engkau membelinya yang patut dibeli, Engkau menggantinya yang patut diganti, Engkau memintanya yang patut diminta, dan kami akan memberikan kepada Engkau, Engkau tidak boleh terus mengambil begitu saja milik kami.

Raja tidak akan memutuskan hal ikhwal di dalam negeri jika gallarang tidak hadir dan gallarang tidak mengambil keputusan tentang sooal perang jika raja tidak hadir.
Lalu Karaeng Bayo dan Karaeng Tumanurunga menerima ikrar bersama tersebut.
Dari pernikahan Karaeng Bayo dan Karaeng Tumanurunga lahir seorang putra dengan kondisi tidak biasa. Dia lahir setelah tiga tahun lamanya di dalam kandungan. Dia dapat berbicara dan berlari sesaat setelah dilahirkan. Ia pun disebut Tau Assala-salang (Orang Kerukut).
Anak itu lalu diberi nama Tumassalangnga Baraya. Diberi nama seperti itu karena konon dia memiliki bahu yang tidak rata. Sebelah telinganya memiliki benjolan, dan sebelah lainnya berbentuk lebar tidak normal. Telapak kakinya sama panjang antara depan dan belakang, dan pusarnya seperti bakuk karaeng.

Maka bersabdalah bundanya, “mengapa anakku seorang-orang kerukut karena bahunya miring, telinganya seperti bukit yang melambai-lambai, rambut yang putus di Jawa dapat didengarnya. Kerbau putih mati di Selayar tercium olehnya. Burung merpati yang ada di Bantaeng dapat dilihatnya. Kakinya seperti timbangan, pusarnya bagaikan mta air, tangannya pandai menikam. Siapa yang menyembah kepadanya bertahil-tahil emasnya. Siapa yang menyembah dia akan dimohonkannya berkat keselamatan. Siapa yang menyembah dia akan menjadi rakyatnya”.

Sumber :
Buku Sejarah Gowa, karya Abd. Razak Daeng Patunru, 1993

0 comments:

Post a Comment